Pages

Friday, September 20, 2013


Ketika seorang muslim baik pria atau wanita akan menikah, biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, risau, bimbang, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dll. Bahkan ketika dalam proses taaruf sekalipun masih ada juga perasaan keraguan.

Berikut ini sekelumit apa yang bisa saya hadirkan kepada pembaca agar dapat meredam perasaan negatif dan semoga mendatangkan optimisme dalam mencari teman hidup. Semoga bermanfaat buat saya pribadi dan kaum muslimin semuanya. Saya memohon kepada Allah semoga usaha saya ini mendatangkan pahala yang tiada putus bagi saya.

Inilah kabar gembira berupa janji Allah bagi orang yang akan menikah. Bergembiralah wahai saudaraku…

1. “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”. (An Nuur : 26)

Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Nabi-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita yang sholehah. Semoga Allah memberikan hanya yang baik buat kita. Amin.

2. “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (An Nuur: 32)

Sebagian para pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan menikah. Salah satu sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan anehnya ketika para pemuda telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbang juga. Sebagian mereka tetap ragu dengan besaran rupiah yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam pikiran mereka terbesit, “apa cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?”.

Ayat tersebut merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhan keluarga. Bukan besaran rupiah yang sekarang mereka dapatkan. Nantinya Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab para pemuda bertambah – dengan kewajiban menafkahi istri-istri dan anak-anaknya – maka Allah akan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang berlimpah dan mencukupkan kebutuhannya?

3. “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)[1][1]

Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.

4. “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Ar Ruum : 21)

5. “Dan Tuhanmu berfirman : ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina’ ”. (Al Mu’min : 60)

Ini juga janji Allah ‘Azza wa Jalla, bila kita berdoa kepada Allah niscaya akan diperkenankan-Nya. Termasuk di dalamnya ketika kita berdoa memohon diberikan pendamping hidup yang agamanya baik, cantik, penurut, dst.

Dalam berdoa perhatikan adab dan sebab terkabulnya doa. Diantaranya adalah ikhlash, bersungguh-sungguh, merendahkan diri, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dll.

Perhatikan juga waktu-waktu yang mustajab dalam berdoa. Diantaranya adalah berdoa pada waktu sepertiga malam yang terakhir dimana Allah ‘Azza wa Jalla turun ke langit dunia, pada waktu antara adzan dan iqamah, pada waktu turun hujan, dll. Perhatikan juga penghalang terkabulnya doa. Diantaranya adalah makan dan minum dari yang haram, juga makan, minum dan berpakaian dari usaha yang haram, melakukan apa yang diharamkan Allah, dll.

Manfaat lain dari berdoa berarti kita meyakini keberadaan Allah, mengakui bahwa Allah itu tempat meminta, mengakui bahwa Allah Maha Kaya, mengakui bahwa Allah Maha Mendengar, dst.

Sebagian orang ketika jodohnya tidak kunjung datang maka mereka pergi ke dukun-dukun berharap agar jodohnya lancar. Sebagian orang ada juga yang menggunakan guna-guna. Cara-cara seperti ini jelas dilarang oleh Islam. Perhatikan hadits-hadits berikut yang merupakan peringatan keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Barang siapa yang mendatangi peramal / dukun, lalu ia menanyakan sesuatu kepadanya, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh malam”. (Hadits shahih riwayat Muslim (7/37) dan Ahmad).

Telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Maka janganlah kamu mendatangi dukun-dukun itu.” (Shahih riwayat Muslim juz 7 hal. 35).

Telah bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya jampi-jampi (mantera) dan jimat-jimat dan guna-guna (pelet) itu adalah (hukumnya) syirik.” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no. 3883), Ibnu Majah (no. 3530), Ahmad dan Hakim).

6. ”Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. (Al Baqarah : 153)

Mintalah tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Tentunya agar datang pertolongan Allah, maka kita juga harus bersabar sesuai dengan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Juga harus shalat sesuai Sunnahnya dan terbebas dari bid’ah-bid’ah.

7. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah : 5 – 6)

Ini juga janji Allah. Mungkin terasa bagi kita jodoh yang dinanti tidak kunjung datang. Segalanya terasa sulit. Tetapi kita harus tetap berbaik sangka kepada Allah dan yakinlah bahwa sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Allah sendiri yang menegaskan dua kali dalam Surat Alam Nasyrah.

8. “Hai orang-orang yang beriman jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia
akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad : 7)

Agar Allah Tabaraka wa Ta’ala menolong kita, maka kita tolong agama Allah. Baik dengan berinfak di jalan-Nya, membantu penyebaran dakwah Islam dengan penyebaran buletin atau buku-buku Islam, membantu penyelenggaraan pengajian, dll. Dengan itu semoga Allah menolong kita.

9. “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (Al Hajj : 40)

10. “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al Baqarah : 214)

Itulah janji Allah. Dan Allah tidak akan menyalahi janjinya. Kalaupun Allah tidak / belum mengabulkan doa kita, tentu ada hikmah dan kasih sayang Allah yang lebih besar buat kita. Kita harus berbaik sangka kepada Allah. Inilah keyakinan yang harus ada pada setiap muslim.

Jadi, kenapa ragu dengan janji Allah?

F1T4b !


Assalamualaikum. F1T4b, kelas kat kolej matrikulasi perak. dah nak hampir 5 bulan dok kat sini. dan semua nie classmate yg terr bestt skali ! wuihwuih ! will miss this. even sekejap jew. tpi rsa mcm rapat. knnn. haha. yea lah kot. gambar time makan malam gala 2013. tema merah hitam. ar itu ja kot. harap hubungan ini dpt dkekal kn. baiii. sayang F1T4b !

lpas mkan pn wajib kena pose !

Batas - batas Aurat dalam Islam


Aurat dari segi bahasa; ialah keaiban.
Manakala dari segi istilah Syarak; ialah bahagian-bahagian tertentu pada tubuh manusia yang wajib ditutup.
Jadi, aurat bermaksud bahagia-bahagian tertentu yang wajib dilindungi daripada pandangan orang ajnabi(orang yang boleh berkahwin dengannya) kerana perbuatan tersebut dianggap suatu yang mengaibkan di sisi agama Islam.

AURAT KETIKA BERSENDIRIAN
1. Ulama’ Mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat: “Sebagaimana dilarang seorang mukallaf (orang yang dituntut beramal dengan suruhan dan meninggalkan larangan) mendedahkan aurat ketika berhadapan dengan orang yang dilarang melihat auratnya, maka demikian juga dilarang mendedahkan auratnya ketika ia bersendirian kecuali ketika dharurat atau terpaksa dibuka seperti ketika qadha’ hajat atau ketika mandi. Ketika dharurat diharuskan membukanya.”
2. Sementara Ulama’ Mazhab Maliki dan Syafi’ie berpendapat: “Ketika seseorang itu bersendirian, tidak diharamkan mendedahkan auratnya hanya makruh kecuali ketika dharurat kerana ketika dharurat diharuskan membukanya.”
BATAS-BATAS AURAT LELAKI
Rasulullah SAW bersabda:

عنِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:

((لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ، وَلَا يُفْضِي الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، وَلَا تُفْضِي الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِي الثَّوْبِ الْوَاحِدِ)) [صحيح مسلم]

Maksudnya: “Seorang lelaki tidak boleh melihat aurat lelaki lain, demikian juga wanita tidak boleh melihat aurat wanita yang lain. Tidak boleh dua orang lelaki berada (tidur) dalam satu selimut demikian juga dengan wanita dilarang berbuat demikian.” [HR Muslim].
Ulama mempunyai pelbagai pendapat dalam hal had atau batas aurat lelaki ini;
1. Mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat: “Lelaki diwajibkan menutup auratnya di antara pusat hingga lutut daripada dilihat oleh lelaki atau perempuan yang bukan mahramnya kecuali kepada isterinya. Selain dari isterinya diharamkan melihat aurat di antara pusat hingga lututnya”.
Isteri boleh (harus) melihat aurat suami kecuali pada kemaluan kerana melihat kemaluan masing-maisng adalah MAKRUH.
2. Imam Malik dan Imam Syafi’ie berpendapat: “Aurat lelaki ada dua keadaan:
(1) Auratnya dengan sesama lelaki dan perempuan yang mahram dengannya. Auratnya ialah di antara pusat hingga lutut sahaja.
(2) Auratnya dengan perempuan yang bukan mahramnya.
Auratnya adalah seluruh tubuh badannya.
[Rujuk Kitab al-Fiqh ’Ala al-Mazahib Al-Arba’ah, jilid 1 dalam bab Mabhas Sitr Al-Aurah].
BATAS AURAT WANITA DENGAN LELAKI
Para Ulama’ bersepakat berpendapat bawah aurat perempuan kepada lelaki yang bukan MAHRAMNYA ialah seluruh tubuh kecuali muka dan kedua tapak tangannya. Ini berdasarkan kepada firman Allah SWT adalam surah An-Nur ayat 31, Al-Ahzab ayat 53 dan ayat 59 serta riwayat beberapa buah hadith.
Firman Allah SWT:

{وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ}

Maksudnya: “{Dan janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasannya kecuali apa yang biasa nampak daripadanya dan hendaklah mereka menutup kain tudung mereka hingga ke bawah dada}.” [An-Nur: 31].
Firman Allah SWT

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا} الأحزاب (59)

Maksudnya: “{Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isteri dan anak-anak perempuan kamu serta kepada para isteri orang mukmin sekalian, hendaklah menghulurkan JILBAB mereka ke seluruh tubuh badan mereka kerana dengan itu mereka akan mudah dikenali (sebagai wanita mukminah) dan mereka selamat daripada gangguan. Dan sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang}.” [Al-Ahzab: 59].
Firman Allah lagi:

{وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ} الأحزاب (53)

Yang bermaksud: “{Apabila kamu bertanya atau meminta sesuatu keperluan kepada mereka (isteri-isteri Nabi SAW), maka hendaklah di sebalik tabir. Cara demikian adalah lebih mensucikan hati kamu dan hati mereka …}” [Al-Ahzab: 53]
Sebuah hadith yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebut riwayat dari Ibn Syihab dari ’Urwah dan dari Aishah, R.anha berkata:
“Semoga Allah mencucuri rahmat kepada wanita-wanita Muhajirin yang mulia iaitu tatkala Allah menurunkan ayat 31 surah An-Nur, mereka teus mengoyak kain selendang lalu menutup diri mereka dengannya”. [Tafsir Ibn Kathir juz 3 halaman 284]
HR Abu Daud daripada Saidatina Aisyah Radhiyallahu ‘anha bahawa suatu hari kakaknya iaitu Asma’ binti Abu Bakar datang mengadap Rasulullah SAW sedangkan ia berpakaian nipis (jarang). Melihatkan keadaan itu, Rasulullah SAW terus berpaling muka dan bersabda maksudnya: “Wahai Asma’, apabila seorang wanita telah sampai masa haid (baligh), maka lelaki ajnabi tidak boleh melihatnya, kecuali kadar had ini (Rasulullah SAW mengisyaratkan pada muka dan kedua tapak tangannya).”
BATAS AURAT WANITA MENURUT ULAMA’ MAZHAB:
Antara batas aurat wanita yang telah ditetapkan oleh syariat menurut pendapat dan fatwa mazhab ialah;
1. Di hadapan lelaki bukan mahramnya ialah seluruh tubuh. Maksudnya semua termasuk rambutnya, mukanya, kedua tapak tangannya zahir dan batinnya juga kedua tapak kakinya. Hukum ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW yang bermaksud: “Sesungguhnya wanita itu adalah aurat”. (HR Al-Bazar dan At-Tirmizi).
2. Semasa seorang diri atau di hadapan lelaki mahramnya atau di hadapan wanita Islam yang baik akhlaknya, batas auaratnya adalah antara pusat hingga lutut. Walau bagaimanapun, bagi menjaga adab serta memperhalusi akhklak ketika berhadapan dengan lelaki yang mahramnya, eloklah wanita itu menjaga dan menutup auratnya yang selain dari pusat hingga lutut agar tidak menimbulkan ghairah kepada lelaki walaupun darjatnya mahrahm dengannya. Lebih-lebih lagi ditakuti akan timbul fitnah, kes sumbang mahram dan lain-lain.
3. Di hadapan wanita kafir dan wanita yang rendah akhlaknya, aurat wanita itu adalah seluruh tubuh kecuali anggota yang zahir ketika bekerja iaitu kepala, muka, leher, dari dua tapak tangan hingga ke siku sahaja dan dua tapak kakinya. Selain itu adalah diharamkan membukanya.
4. Aurat wanita sahaya (hamba) kepada lelaki yang mahram dengannya dan sesama perempuan auratnya adalah dari pusat hingga lutut. Dengan lelaki bukan mahram dengannya (ajnabi) auratnya adalah seluruh tubuh badan.
Penjelasan-penjelasan ulama tentang batas-batas aurat wanita di hadapan lelaki ajnabi (bukan mahram).
Perbezaan pendapat;
1. MAZHAB SYAFI’IE: ada 2 qaul;
a) Qaul pertama: Aurat wanita merdeka di hadapan lelaki ajnabi ialah seluruh tubuh badan tanpa kecuali. Qaul ini adalah qaul yang paling soheh dalam Mazhab Syaf’ie.
b) Qaul kedua: Aurat wanita di hadapan lelaki ajnabi ialah seluruh tubuh badan kecuali muka dan dua tapak tangan. Walau bagaimanapun, jika mendedah muka dan dua tapak tangan boleh menimbulkan fitnah kepada wanita itu, maka ketika itu wajiblah menutup seluruh tubuh badan tanpa kecuali. Fitnah iaitu ( ”apa yang lahir pada dirinya yang mana dengan melihatnya boleh mendatangkan nafsu syahwat).
2. MAZHAB HAMBALI: ada 2 qaul;
a) Qaul pertama: Semua anggota wanita adalah aurat tanpa kecuali kepada lelaki ajnabi.
b) Qaul kedua: Semua anggota tubuh wanita bagi lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah aurat kecuali muka dan dua tapak tangan. Tapi jika mendedahkan boleh mendatangkan fitnah, maka wajiblah juga menutupnya.
3. MAZHAB HANAFI: ada 2 qaul;
a) Qaul pertama: Aurat wanita merdeka di hadapan lelaki adalah seluruh tubuh kecuali muka dan dua tapak tangan. Walau bagaimanapun, jika mendedahkan boleh mendatangkan fitnah, maka wajiblah juga menutupnya.
b) Qaul kedua: Semua anggota tubuh wanita bagi lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah aurat kecuali muka dan dua tapak tangan hingga ke pergelangan tangan dan dua tapak kaki.
4. MAZHAB MALIKI: Aurat wanita merdeka di hadapan lelaki adalah seluruh tubuh kecuali muka dan dua tapak tangan. Walau bagaimanapun, jika mendedahkan boleh mendatangkan fitnah, maka wajiblah juga menutupnya.
SIAPAKAH YANG DIKATAKAN GOLONGAN MAHRAM BAGI WANITA.
1. Bapa sendiri ( bapa kandung).
2. Bapa suami (bapa mertua).
3. Anak lelaki.
4. Anak lelaki suaminya (anak tirinya atau anak isteri lain bagi suaminya sama ada isteri itu masih hidup atau telah bercerai atau meninggal) tetapi bukan anak dari bekas isteri suaminya dengan suami yang lain yang dikahwininya setelah bercerai dengan suaminya.
5. Saudara lelaki (adik atau abang seibu sebapa atau seibu sahaja atau sebapa sahaja).
6. Anak lelaki kepada saudara lelaki (anak saudara).
7. Anak lelaki kepada saudara perempuan (anak saudara).
8. Kanak-kanak lelaki yang bukan mahram yang belum mengerti tentang aurat wanita (belum mumayyiz).
9. Anak lelaki susuan.
10. Bapa susuan.
11. Saudara susuan.
12. Bapa saudara sususan, datuk saudara susuan hingga ke atas, dan anak saudara susuan hingga ke bawah.
13. Menantu lelaki.
DIBOLEHKAN LELAKI BUKAN MAHRAM MELIHAT AURAT WANITA DALAM BEBERAPA KEADAAN.
1. Ketika hendak meminang. Kadar sempadan aurat yang hendak dilihat ialah muka dan kedua tapak tangan sahaja.
2. Ketika berjual beli.
3. Doktor atau tabib bertujuan mengubat.
4. Ketika hendak menjadi saksi.
5. Ketika mengajar.
Beberapa kesalahan yang biasa dilakukan oleh ramai Muslimah samada mereka sedar atau tidak:
1) Berpakaian ketat dan menampakkan beberapa bahagian anggota tubuh.
2) Menyerupai pakaian lelaki seperti berseluar panjang dan berkemeja.
3) Menyerupai pakaian wanita-wanita kafir seperti fesyen-fesyen terkini yang jelas bercanggah dengan cara berpakaian Muslimah.
4) Tidak menutup sebahagian anggota tubuh. Ada yang nampak telinganya, nampak lehernya, nampak rambutnya, nampak lengannya, nampak kakinya dan sebagainya.
5) Pakaian tersebut penuh dengan perhiasan.
6) Kainnya nipis sehingga boleh dilihat walaupun kain tersebut menutup auratnya.
7) Pakaian yang dipakai mempunyai ciri-ciri kemahsyuran, ke’glamour‘an dan nilai-nilai kesombongan orang yang memakainya.

Mudah-mudahan dengan tersenarainya beberapa hal di atas, kita mendoakan agar saudara-saudara Muslimah kita semua dapat berubah dan mengambil tindakan untuk memperbetulkannya. Bukan mereka semua sengaja mahu langgar, tapi kadang-kadang akibat salah faham dan pengaruh sekeliling, maka mereka keliru dan jauh dari petunjuk agama.
Pakaian Muslimah yang betul dan tepat dengan kehendak syariat Islam ialah:
1) Menutup semua bahagian tubuh melainkan muka dan tapak tangan.
2) Pakaian tersebut tidak mempunyai ciri-ciri perhiasan yang boleh menarik perhatian.
3) Mestilah kainnya tebal. Mestilah tidak tembus cahaya dan tidak boleh nampak anggota tubuh.
4) Mestilah longgar (tidak ketat), supaya tidak menampakkan bentuk tubuh.
5) Tidak berwangi-wangian.
6) Tidak menyerupai pakaian lelaki.
7) Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.
8) Pakaian tersebut mestilah tidak melambangkan kemasyhuran atau kesombongan.